Kamis, 16 Juli 2009

Dibalik Kunjungan Siswi KIR ke SLBB Don Bosco Wonosobo

Mungkin banyak yang belum tahu, kalau kemarin tanggal 24 Mei 2008, anak-anak KIR beserta Pak Petrus sebagai pendampingnya dan ditambah dengan 1 orang dari Majalah Gema Pius, berkunjung ke SLBB Don Bosco Wonosobo. SLBB Don Bosco adalah salah satu sekolah khusus anak yang kurang bisa bahkan mungkin tidak bisa mendegar, dengan kata lain tuna rungu. Nah, karena mereka sejak kecil mereka tidak pernah mendegar suara, maka mereka kurang dapat berbicara dengan lancar. Rasa capek dan letih dalam perjalanan yang menempuh kurang lebih 4 jam itu, hilang disana. Ternyata, sekolahnya besar sekali dan ditambah hawa yang sejuk pula. Ketika kami sampai disana, kami disambut dengan ramah oleh Bruder Marcell sebagai "Yang Dituakan" disana. Ternyata beliau ternyata adik dari Ibu Saptadi, guru kita tercin

Sebelumnya, kami diajak terlebih dahulu berkeliling mengitari komplek. Wow, ternyata gedungnya benar-benar dari yang kami kira. Ternyata, sekolahnya memiliki 2 lapangan yang cukup luas sekali ( cukup biking ngos-ngosan kalau buat keliling lapangan he..he..he.. ). Memiliki 2 aula yang cukup besar, dan cukup nyaman, asrama yang rapi dan bersih. Setelah puas beramah-tamah, kamipun menyerbu Bruder Marcell dengan banyak pertanyaan. SLBB Don Bosco adalah salah satu sekolah yang keukeuh untuk menerapkan "sistem oral" untuk pembelajaran bahasa bagi para siswanya. Sistem oral ini "mewajibkan" siswa untuk bicara. Bicara yang dapat dimengerti oleh lawan bicaranya. Bukan hanya sekedar mengeluarkan suara. Dan juga mampu membaca gerak bibir lawan bicaranya. Karena menurut pandangan system ini, anak tunarungu nanti akan hidup ditengah-tengah masyarakat yang berbicara dan berbahasa. Jadi mereka pun harus menyesuaikan diri. Kenapa tidak memakai bahasa isyarat? Karena tidak semua anggota masyarakat memahami bahasa isyarat, bahkan orang-orang di dalam lingkungan pendidikan tunarungu pun belum tentu menguasai. Jadi lebih baik, yang "sedikit" menyesuaikan diri terhadap yang "banyak". Kita memperbincangkan banyak hal. Dari mulai sekolah, keluarga dan kegiatan sehari-hari. Perlu diketahui, klo anak-anak yang sekolah disini sudah tinggal di asrama sejak mereka berusia 5 tahun! Mereka ketemu keluarganya klo pas liburan atau ada kunjungan aja. Klo yang sampai melanjutkan SMP nya di sekolah ini, berarti mereka tinggal di asrama kurang lebih 12 tahun. Karena klo yang tunarungu itu ada kelas persiapan selama 3 tahun sebelum masuk SD. Ada juga beberapa yang setelah lulus SD melanjutkan di sekolah biasa. Setelah kelas lanjutan (SMP) ada juga kelas keterampilan / kejuruan. Disini mereka diajarkan beberapa keterampilan sesuai dengan minat masing-masing. Ada keterampilan menjahit, kayu, besi dan klo gak salah masih ada keterampilan yang lainnya. Biar setelah keluar dari sekolah ini, mereka memiliki keahlian. Sekolah yang 90 % siswanya beragama Islam ini ternyata bisa menciptakan orang-orang yang bermutu lho, contohnya desainer dan bahkan mereka yang sudah lulus banyak yang bisa melanjutkan ke Universitas. Dan yang hebatnya lagi, mereka kemarin dalam UAN menempati peringkat 10 besar dalam Kabupaten Wonosobo lho !.Dan soal biaya bagi yang mereka yang kurang mampu, dapat menyesuaikan kok. Namun, ada juga mereka yang dari titipan Panti Asuhan dan guru-guru yang mengajar merekapun lulusan khusus. Ogh iya, satu yang terlupakan kalau mereka itu jago-jago pula dalam bidang olahraga kayak badminton , bakset , tennis meja , dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar